Kamis, 17 Maret 2011

Tentang Adat Orang Batak Toba (Dalihan Natolu)..

Sistem Partuturan Dalihan Natolu
            Partuturon berasal dari kata tutur. Kata tutur mengandung dua makna: pertama, kalau tekanan tekanan jatuh pada suku pertama maka artinya tondong, famili, kerabat, keluarga. Kedua, tekanan jatuh pada suku kedua maka artinya teratur, beraturan, atau berbaris. Pada konsep partuturon kedua-duanya arti itu berpadu, yaitu dalam kekerabatan ada keteraturan. Kekerabatan ada keteraturan  itu ialah Term Of Reference dan Term Of Addres yaitu istilah yang menyatakan hubungan kekeluargaan, dan istilah yang menyatakan panggilan kepada seseorang. Pengoperasian pada istilah pertalian dan panggilan kekeluargaan ini diwarnai dan disenyawai kedirian unsur dalam unsur dalam dalihan natolu. Seseorang bertutur sangat sopan kepada lae, tulang, besan, simatua dan semua anggota kelompok hula-hulanya. Karena hula-hulanya itu pengemban kuasa hahomion (kemisterian-kebijaksanaan) yang berasal dari Debata Batara Guru. Walaupun terasa akrab tetapi ada jarak pemisah. Hal itu sangat perlu untuk mengabdikan pertalian kekeluargaan itu. Kepada dongan sabutuha seseorang itu berbicara seakrab-akrabnya karena mardongan sabutuha itu seharusnya akrab, walaupun tetap sopan dan terkendali. Kepada pihak boru seorang itu sangat lugas dan akrab, tetepi sebaliknya kepada pihak borunya tetap bersopan santun.
            Martutur artinya berbincang-bincang, tetapi lebih condong berbincang-bincang mengenai partuturon, yaitu mengenai pertalian dan pemanggilan dalam kekerabatan tersebut. Dalam martutur inilah kita pedomani umpasa.

            Jolo tinitip sanggar                    Emping dipotong-potong
            Bahen huru-huruan                    Untuk membuat sangkar
            Jolo sinungkun marga    Duluan ditanya marga
            Asa binoto partuturon               Agar tahu kekerabatan

            Dengan martutur kita saling tahu marga, dan dengan mengetahui marga masing-masing dapat dicari pertalian kekeluargaan, dan dapat ditentukan istilah pemanggilan. Dengan mengetahui pertalian dan  pemanggilan tersebut segalanya yang berhubungan dengan cara bertutur itu sudah berjalan secara wajar. Oleh karena itu supaya partuturon terlaksana maka harus mengetahui marga, dan supaya marga dikuasai pelajari tarombo (silsilah). Semua sarana ini sudah diwariskan nenek moyang kita.
            Seseorang lelaki dewasa mengambil isteri. Isterinya disebut jolmana, ripena, tunggane boruna, parsondukna, niolina, ina ni anakhonna. Laki-laki memanggil isterinya…. Tidak ada panggilan yang jelas seperti mami, mama, atau yang lainnya. Terasa pada penyebutan  itu sifat-sifat partriarhat yang kental, yang mengklaim isterinya itu miliknya, di bawah pengaruhnya. Sebaliknya isterinya menyebut suaminya na mangalap au, sinondukhu, ama ni anakhonku. Isteri pun tidak punya istilah pemanggilan khas kepada suaminya, dan isteri ini sesudah kawin jadi masuk marga suaminya. Oleh karena itu ada umpasa

Tinallik randorung bontar gotana
            Dos do anak dohot boru nang pe pulik margana
            (Dipotong pohon randorung, putih getahnya
            Anak laki-laki dan anak perempuan sama saja
            Meskipun sudah berlainan marganya)
Umpasa tersebut mengisyaratkan bahwa sesedah anak perempuan kawin/berumah tangga, dia sudah masuk marga suaminya.
            Panggilan suami kepada isteri atau sebaliknya tidak ada istilah yang jelas. Nama mereka tidak bisa dipergunakan. Kalau anaknya lahir, kalau laki-laki disebut si Ucok, kalau perempuan dipanggil si Butet. Si ayah jadi Pak Ucok, si ibu jadi Mak Ucok. Kemudian setelah dilakukan upacara pemberian nama, maka si anak mamperoleh nama resmi, yang disebut goar sihadakdahanon (nama kecil). Istilah itu mengisyaratkan masing mungkin  menambah nama pada masa berikutnya. Dan, hal itu ternyata benar, karena sering, sewaktu dipermandikan si anak ditambah namanya dengan sebuah nama baptis, nama Kristen, atau sejenisnya.
            Untuk pemrosesan selanjutnya, nama si Ucok disebut Borris, nama ayahnya Pak Borris, dan ibunya Mak Borris. Melalui ketiga mereka inilah diperlihatkan pertalian dan pemanggilan ke berbagai hubungan untuk memperlihatkan kaitan kekerabatan dalihan natolu tersebut. Akan tetapi sebelum pembicaraan itu kiranya perlu dipahami bahwa sering ada kata yang makna penggunaannya bukan hanya satu. Dan, pemakaiannya pun bermacam-macam. Misalnya kata amang, inang, dan ito. Kata amang dipakai seorang anak memanggil ayahnya, tetapi juga dipakai seorang menantu laki-laki menyapa mertuanya laki-laki. Akan tetapi, selain itu, kata amang dipakai oleh seseotang kepada seorang laki-laki dewasa yang diperkirakan sesudah berkeluarga, sebelum mereka berkenalan. Tetapi juga dipakai sebagai penghormatan seperti amang camat, amang pendeta, amang guru. Kata inang adalah panggilan seorang anak kepada ibunya. Akan tetapi juga akan terpakai kepada semua perempuan yang sudah berkeluarga. Selain itu, kata inang juga dipakai seorang menantu laki-laki menyapa mertuanya perempuan. Juga dipaki sebagai penghormatan seperti inanta ni guru, inanta ni pandita. Dalam hal itu kata inang berubah menjadi inanta. Pengulangan kata amang menjadi amang-amang dan inang menjadi inang-inang bukan memajemukkan, menyatakan banyak, tetapi memplesetkan. Penggunaan seperti itu memberi konotasi agak negatif, kurang hormat. Kata ito pada dasarnya dipakai untuk panggilan bagi mereka yang bertalian mariboto, seperti laki-laki pada perempuan seayah, atau seibu, atau seayah-seibu; atau kata panggilan seorang laki-laki kepada putri namborunya. Diluar kata itu, kata ito dipakai perempuan kepada laki-laki atau sebaliknya karena belum mengetahui pertalian keluarga, atau untuk menyatakan rasa hormat. Banyak lagi kata yang dapat diterangkan dengan cara itu.

Umpasa Pemandu Partuturon
            Dalihan Natolu memandu anggota masyarakat Batak Toba bertutur sehari-hari, serta memandu sikap dan tutur sapa antar individu dalam kelompok unsur dalihan natolu. Pelaksanaan tutur sapa itu selalu diinspirasi oleh corak partuturon yang selalu mengacu kepada kedudukan tiap individu dalam unsur struktur kemasyarakatan dalihan natolu tersebut. Melalui term of reference dan term of address (pola pertalian dan panggilan dalam keluarga) setiap individu dalam karakter partuturon anggota masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
            Anggota masyarakat Batak Toba sangat memperhatikan partuturon itu, karena dalam anggapan mereka partuturon itu bukan saja tehnik bertutur, merupakan juga landasan pengoperasian hubungan pertalian keluarga, dan sekaligus sebagai pernyataan sikap dan penghormatan kita terhadap semua yang lain. Dalam kaitan ini T.M. Sihombing dalam jambar hata(1992:36) mengatakan “Dipargoluon siapari laos ni hita Batak partuturon i do ondolan ni filsafat pargoluon, jala partuturon i do na manontuhon  sikapta (houding manang attitude) maradophon dongan.”
            Bagaimana kesemuanya ini terekam dalam umpasa-umpasa, marilah kita telusuri pada uraian selanjutnya.

  1. umpama-umpama dalam pergaualan sehari-hari.
Dalam partuturon, penguasaan tentang margas sangat penting. Tiap orang harus menguasai marga apa mereka (tiap orang menuruti marga ayahnya), marga apa ibunya (inklusif marga hula-hula mereka), marga yang mengawini saudaranya perempuan atau marga suami kakak adiknya perempuan (menjadi marga boru keluarga mereka). Pada umumnya semua marga akan sendirinya terjaring kepada unsur yang tiga, yaitu marganya sendiri yang sekaligus marga dongan sabutuha, marga ibunya yang sekaligus marga hula-hulanya, dan marga boru. Turunan tiap unsur ini akan mengikuti pertalian dan pemanggilan mereka dengan segala penyesuaian sebagaimana tergambar pada uraian sebelumnya(lihat hal…..).
Itulah sebabnya, partuturon antar individu, pada setiap kali bertemu dengan seseorang yang baru yang belum dikenal ditanyakan apa marganya. Untuk itu umpasa di bawah ini mengatakan:
           
            Tinitip sanggar bahen huru-huruan
            Jolo sinungkun marga asa binoto partuturon
            (emping dipotong-potong, dijadikan sangkar burung
            Lebih dulu bertanya marga, biar tahu persaudaraan)

Antar pihak bersalaman menyebutkan marga masing-masing. Sesudah itu mereka mengetahui bersaudara abang atau adik, atau marlae, martulang, atau maramang boru. Kalau mereka merasa perkenalan itu perlu dilanjutkan dengan mengetahi jauh atau dekatnya kekeluargaan mereka, percakapan itu dilanjutkan. Kalau mereka merasa biasa saja, jadi hanya sopan santun saja, mereka tahu mengakhirinya, misalnya “tu jabu hita lae  artinya ayo kerumah kami” atau dengan cara lainnya.
            Bagimana cerminan partuturon dalihan natolu itu bagi kalangan muda-mudi dapat terliahat melalui umpasa dibawah ini.

            Ramba dia ramba muna                        Hutan apa hutan kamu
            Rio-rio ramba na poso              agak jarang hutan muda
            Marga dia marga muna                         Marga apa marga kamu
            Huso-huso dongan na poso                   Kawan muda-mudi bertanya

Melalui umpasa itu sekawanan muda-mudi mempertanyakan marga seorang/serombongan pemuda atau sebaliknya dengan maksukd mengetahui pertalian hubungan kekerabatan dan pemanggilan apa yang mungkin diserukan. Di dalamnya terselip dalam pikitan entah ada anak namboru, tutur pariban, yang secara khusus perlu diperhatikan, misalnya jadi calon pacar dan seterusnya.
            Sapaan diatas dijawab dengan sangat sopan santun, tetapi masih dalam sifat rada-rada jual mahal dengan maksud memancing agresivitas muda-mudi yang mereka datangi, dengan menjawab:

            Langgo ramba nami da ito
            Parasaran ni ambaroba
            Langgo marga nami ndang tarpaboa-boa
            (kalau hutan kami saudara
            Tempat burung bersangkar
            Kalau marga kami
            pantang dikatakan)

Mendengan itu muda-mudi setempat akan menjadi gemas ingin cepat tahu dan cepat berkenalan. Demikianlah budaya partuturon dalihan natolu itu meresap sampai ke kalangan orang muda-mudi.
            Dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aktivitas perseorangan maupun karena kontak komunikasi dengan unsur yang lebih besar, pola dan landasan budaya partuturon itu mengatur, membentuk dan memedomani semua tindakan, pembicaraan, bahkan pola berpikir turunan Batak Toba.
            Umpasa dibawah ini menasehatkan bahwa setiap orang akan sehat-sehat saja di perjalanan atau perantauan manakala dia tetap berkomunikasi dengan baik. Perhatikanlah umpasa pernyataan tersebut.

            Hau antaladan                           Pohon antaladan
            Parasaran ni binsusur                Tempat sangkar binsusur
            Sai tiur do pardalanan   Kita sehat sejahtera di perjalanan
            Molo sai denggan do                Asalkan setia dan rajin bertutur
            Iba martutur



            Kalau setiap orang sudah berpedoman kepada dasar-dasar pikiran dan dasar adat-istiadat menurut posisi yang sedang dijalankannya, mereka akan berkelakuan baik dan dapat mencerminkan martabat yang beradab sebagaimana disampaikan dalam umpasa di bawah ini.

            Tangan do botohon diujung na jari-jari
            Uhum ni hata sidohonon sai jumolo marsattabi
            (denggan sopan dan meminta izin setiap mau
            mengajukan pendapat)

umapasa diatas ini menasehatkan agar setiap orang berhati-hati dan merendah diri pada waktu mengajukan pikiran atau pandangan dikalangan orang banyak.
            Dalam berbagai hal, sopan santun seseorang diukur dari cara berbicara atau cara berturur kata, seperti disebut umpasa di bawah ini.

            Sibigo ambaroba                      Burung sibigo ambaroba
            Rara hulinghulingna                   merah kulitnya
            Na uli do na roa                        Jadi cantik biar jelek
            Molo saor panghulingna            Jika sopan tutur sapanya

Umpasa ini menyatakan bahwa kepantasan seseorang bukan hanya dilihat dari tampangnya melainkan tutur bahasanya.
            Masih dalam lingkup sopan santun berbicara untuk menyatakan kepribadian terlihat juga pada isi umpasa dibawah ini:

            Ni arit lili                       Lidi dikikis
            Bahen pambaba            jadikan sumpit
            Jolo ni dilat bibir           Lebih dulu dipikir
            Asa nidok hata             lalu berkata-kata

Umpasa tersebut menekankan Norma tingkah laku yang tinggi nilainya. Sebelum berbicara seseorang berpikir lebih dahulu, selain supaya tidak salah, juga supaya yang dikatakannya benar dan baik. Pembicara seperti itu dihargai tinggi masyarakatnya, dan dianggap memiliki kualiatas pribadi yang tinggi.
            Perhatikanlah lagi umpasa dibawah ini.

            Habang ambaroba                    Burung ambaroba terbang
            Paihutihut rura                           menelusuri lembah
            Hata na nidok                           kata yang sudah diucapakan
            Sitongka di paubauba               pantang dirobah-robah

Kalau sebelum bicara sudah dipikirkan terlebih dahulu maka seperti disebut umpasa ini apa-apa yang sudah dikatakan jangan lagi diubah. Hal itu akan menunjukkan kepribadian yang kuat. Seperti kata pepatah melayu “tangan mencengcang bahu memikul”.
Manusia sering kali menyesali perbuatannya yang dianggapnya salah atau terlanjur dilakukan. Menyesali sesuatu yang terlanjur bukanlah pertanda sifat yang ksatria. Perhatikanlah umpasa berikut.

            Tinampul bulung ni sihupi                       Dipotong daun sihupi
            Pinarsaong bulung siala             Dipertudung daun siala
            Unang sumolsol dipudi              Jangan kemudian menyesali
            Ndada sipasingot so ada                       Nasihat bukannya tak ada

Umpasa ini mengandung makna agar seseorang tidak harus menyesali perbuatannya apalagi sudah memikirkannya sebelumnya dan ia sudah mendapat nasihat dari orang tua. Dalam hubungan itu norma yang harus dipegang ialah yang disebut dalam umpasa di bawah ini.

            Manggual sitindaon                   Ogung sitindaon
            Mangan hoda sigapiton Makan kuda sigapiton
            Tu jolo nilangkahon                   Ke depan berjalan
            Tu pudi sinarihon                      Pikirkan hari kemudian
           
            Orang Batak Toba sangat hormat kepada orang tuanya, dan bahkan kepada orang tua-tua. Hal itu dapat dilihat melalui umpasa dibawah ini.

            Martahuak manuk                     Ayam berkokok
            Di tombara ni ruma                   Dikolong rumah
            Halak na pantun marama           Kalaulah sopan kepada orang tua
            I do halak na martua                 Itulah orang yang bertuah

Untuk menghormati orang tua, dan yang lebih tua maka orang Batak Toba harus merendah dan sopan. Lihat lagi umpasa dibawah ini.

            Na niombakhon hudali  Ditancapkan tugal
            Pauk tu tano liat                        Tertancap ke tanah liat
            Na tois marama                        Kalau lancang kepada ayah
            Tung gomahon ni babiat            Pasti diterkam harimau
            Na pantun marina                     Kalau sopan kepada ibu
            Sai dapotan parsaulian Akan beroleh rezeki

Karena ajaran di atas tiap orang menjadi biasa bertutur sapa yang sopan kepada ayah dan ibunya. Hormat kepada orang tua, dan berbakti kepada mereka pada masa tuanya merupakan norma hidup yang umum bagi orang Batak Toba. Sebaliknya orang yang durhaka kepada orang tua dianggap orang yang tidak berbudi.
            Orang Batak Toba sangat terbuka untuk berteman, bukan saja teman yang berasal dari satu marga, melainkan dari marga lain atau suku lain. Teman bagi orang Batak Toba adalah saudara, sehingga harus dipercayai, dihormati, dan disayangi. Mengenai sifat tersebut umpasa di bawah ini akan membuktikan.

            Manuk ni pealangge                  Ayam pealangge
            Hotek-hotek laho marpira         Berkotek mau bertelor
            Na sirang maraleale                  Kalau berpisah dengan teman
            Lobian na mate ina                    Pedih-pilu bagai kematian ibu

Umpasa itu mengibaratkan perpisahan dengan teman ibarat kematian ibu.
            Pada umpasa berikut ini kita gambarkan sifar terbuka dan mudahnya membaca pikiran orang Batak Toba, dank arena keterbukaan jiwa itu, mereka harus lurus, jujur, adil, dan suka berteman. Pahamilah umpasa berikut.

            Paltak songon indahan di balanga
            (terang dan jelas nampak bagai nasi dalam belanga)

            sifat itu asli bagi orang Batak Toba, sifat itu mendorong mereka berbicara terus terang, yang bagi orang lain,  apalagi dari luar suku, bahkan dari sukunya sendiri yang sudah lama tinggal di kota sering menganggap cara berbicara mereka agak kuat-kuat dan kurang halus. Pada hal cara berbicara seperti itu hanya terdorong untuk membuat supaya semuanya jelas, tanpa ada yang segaja disembunyikan.
            Sejalan dengan sifat dan sikap keterus-terangan itu, suku Batak Toba mendambakan kebersihan jiwa, tanpa ada dendam. Semua perselisihan harus segera diakhiri dan tuntas, keadaan pergaulan pulih seperti biasa. Gambaran keinginan dan sifat seperti itu terbaca dalam umpasa dibawah ini.

            Siboru puas                  Si gadis pemurah
            Siboru bakkara Si gadis dari Bakkara
            Molo dung puas            Kalau curahan hati puas
            Sae so ada mara           Perkara selesai tanpa bala

b. Umpasa dalam pertalian antar unsur
            Semua sikap, perilaku, dan perbuatan sebagaiman digambarkan melalui umpasa-umpasa di atas bersumber dari dasar pandang dan dasar berpikir orang Batak Toba yaitu pandangan yang mencerminkan alam spiritual bahwa dalihan natolu adalah penjelmaan dari Debata natolu dengan representasi dari semua fungsi dan sifat serta aturan-aturannya untuk dipedomani dalam kehidupan benua tengah. Oleh karena itu kehidupan Batak Toba diinginkan supaya mengaktualkan sifat kebijakan dan kebajikan, kesucian dan kesatriaan. Itulah yang harus dicerminkan cara partuturon individu yang dijelaskan diatas. Selain itu, partuturon itu sudah dipolakan melalui landasan partuturon kelompok, sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.
            Secata sangat luas T.M. Sihombing memerinci cakupan tiap unsur dari unsur dalihan natolu yang mengatur dan menjadi sumber partuturon dan sumber semua nilai kebudayaan Batak Toba (1992:36-37). Cakupan dongan sabutuha dan kalangan yang dianggap masuk unsure itu ialah:




a)      Dongan saama ni suhut
b)      Paidua ni suhut (ama martinodohon)
c)      Hahaanggi ni suhut/dongan tubu (ompu martinodohon)
d)      Bagian panamboli (panungkun nisuhut)
e)      Dongan samarga ni suhut (dongan sabutuha)
f)        Dongan saina ni suhut ( pulik marga)
g)      Dongan sapadan ni ompu (pulik marga)
h)      Pariban (sian hata ni pariba artinya dianggap seperti dirinya sendiri)
i)        Dongan sahuta, raja na ginokhon dohot ale-ale

Kaidah-kaidah partuturon yang menjadi landasan sikap, tindak, dan perbuatan dalam unsure namardongan sabutuha ialah:
a)      Manat ma ho mardongan sabutuha
      (bijaksana terhadap anggota keluarga kalau kita ingin dihormati).
b)      Tampulon aek do na mardongan sabutuha
(bagai air dicencang takkan putus pertalian kekerabatan orang sekeluarga. Karena itu kalau ada perselisihan mereka, orang luar haru hati-hati, bisa saja bagi mereka yang bersaudara perselisihan itu sudah lama selesai, tetapi bagi orang lain masih berbekas di dada).
c)      Tali papaut tali panggangan
Tung taripar laut pe tinanda do dongan
(Tali papaut tali panggangan walau diseberang laut kita tetap kenal keluarga).
d)      Eme namasak digagat ursa
(umpama ini terpakai juga bagi penyesuaian pikiran kalangan masyarakat umum menurut masanya. Artinya : apa yang menjadi corak pikiran pada suatu masa begitulah juga kita harus berpikir).
e)      Suhar bulu ditait dongan, suhar taiton
(umpana ini penanda keloyalan terhadap keluarga atau kepada masyarakat yang lebih luas. Menurut umpasa ini walupun salah kalau sudah terlanjur dilakukan anggota keluarga, kita wajib membantunya. Ke masa depan kita perlu hati-hati, walau kita tetap loyal kita harus mampu mengerem tindakan anggota keluarga kita yang merugikan masyarakat).

Umpasa berikut ini merupakan penjabaran dan penguatan siapa-siapa yang tergolong mardongan sabutuha. Bacalah umpasa berikut ini.

Na marpusuk ni lanteung                       Berpucukkan daun terong
Na mardakka ni rintua              Bercabangkan semak belukar
Na marhahamaranggi do                       Orang berkakak adik
Na mardongan sabutuha                       Tergolong dongan sabutuha

            Umpasa dibawah ini memperlihatkan bahwa orang akrab itulah yang sering cekcok. Karena terlalu akrab mereka lupa mawas diri, lupa hati-hati dalam berbicara, lupa hati-hati bertindak. Bagi keadaan seperti itu dikatakan dalam umpasa seperti dibawah ini.

            Ndang marsiososan hau
            Langgo so pajonok-jonok
            Kedua umapasa diatas mengandung makna yang kontras, akan tetapi begitulah yang terjadi.
            Bagaimanapun, semua turunan Batak Toba mendambakan, agar mereka yang mardongan tubu, terutama dalam kaitan adapt-istiadat, harus tetap harmonis, seia sekata, sama-sama tampil, dan saling mendukung bagai disebut umpasa dibawah ini.
            Ansimun sada holbung              Ketimun satu lembah
            Pege sekerimpang                                 Jahe secabang
            Menimbung rap tarrobung                     Terjun sama terperosok
            Mengangkat rap tu ginjang                    Meloncat sama-sama terangkat

            Asas somba marhula-hula, “sifat hormat kepada hula-hula”, merupakan sesuatu yang sangat prinsipil. Pertalian kekeluargaan terjadi karena perkawinan. Disebabkan perkawinan itu tercipta partuturon baru. Dari isteri ini suami dan keluarga besarnya mengharapkan memperoleh turunan yang akan melanjutkan kekekluargaan mereka, meneruskan silsilah keluarga mereka. Oleh karena dambaan akan lahirnya sang penerus tersebut, maka keluarga si isteri itu dihormati, walaupun sesungguhnya keluarga itu tadinya orang asing bagi mereka. Sesudah semakin kenyataan bahwa sang isteri ini sudah memberikan turunan yang banyak maka keluarga itu makin disembah, petuahnya semakin didengar, dan lambat laun diagungkan. Bagi orang Batak Toba, anak-anaknya ada maka dirasa terang karena ada mataniari. Berdasarkan cara pandang seperti itu maka keluarga isteri itu menjadi bona ni ari, karena dari putri mereka keluarga laki-laki ini memperoleh mataniari. Bona ni ari (pangkalnya matahari ) inilah hula-hula.
            Tentang jati diri hula-hula yang selalu dilestarikan orang Batak Toba, kita dapat mengetahuinya melalui umpasa dibawah ini
a)  sigaton lailai do na marhula-hula
(pihak boru harus dengan teliti mempelajari kemauan dan corak peradatan pihak hula hulanya supaya dapat menyesuaikan sikap dan perlakuan terhadap kebiasaan hula-hulanya).
b)   Na mandanggurhon tu dolok do iba mangalehon tu hula-hula
(ibarat melemparkan sesuatu kegunung kalau memberikan sesuatu kepada hula-hula).
c)  Hula-hula i do Debata na tarida
(hula-hula itu harus dihormati karena merupakan Tuhan Allah yang nampak).
d)  Hula-hula i do mula ni mataniari binsar
(dunia terasa gelap bagi keluarga yang tidak beroleh keturunan, anak-anaknya diaggap mataniari (matahari) bagi suatu keluarga. Karena anak-anak dilahirkan oleh ibu yang berasal dari keluarga hula-hula maka dikatakan hula-hula mula ni mataniari binsar (hula-hula permulaan matahari bersinar).
e)  Obuk do jambulan na didandan behen samara
     Pasu-pasu ni hula-hula marsundut-sundut so ada mara
            (kalau menerima berkat dari hula-hula, generasi dmei generasi kita sehat sejahtera).

           
            Penghormatan kepada hula-hula sering lebih dipertegas dengan mengklasifikasikan hula-hula tersebut sebagai raja ni tutur (raja dalam kekerabatan). Sebagai raja suaranya didengar, perintahnya dipatuhi, dan permintaannya dikabulkan. Bagaimana umpasa-umpasa mengabadikan itu semuanya, mari kita ikuti penjelasan selanjutnya.
           
            Baris-baris ni gaja                     Jejak-jejak gajah
            Di ruma pangolaan                    Dilembah Pangolaan
            Molo marsuru raja                    Jika raja menyuruh
            Dae so oloan                            Pantang tidak dituruti

Maksud kalua rajanya menyuruhkan seseuatu, pantang pihak borunya menolak. Dalam umpasa itu raja diartikan sebagai raja ni tutur yaitu hula-hula.
            Maksud umpasa diatas dipertegas dengan isi umpasa di bawah ini. Marilah mengikutinya.


            Molo so ni oloan                       Kalau tidak dituruti
            Ro ma hamagoan                      Menghadanglah malapetaka
            Molo ni oloan                           Bila di turuti
            Roma parsaulian                       Bertambahlah kesejahteraan

Kata umpama itu, kalau tidak mengindahkan permintaan raja, maka malapetaka akan terjadi, akan tetapi bila dipenuhi maka kesejahteraan keluarga akan semakin bertambah.
            Umpasa dibawah ini mengisyaratkan bahwa berkat dari hula-hula akan menjauhkan mara bahaya dari keluarga, bergenerasi lamanya akan selamat-selamat. Bacalah umapasa tersebut.
            Mangula ma pangula                    Petani turun mencangkul
            Laos dipasae duhut-duhut            Sambil membabat rerumputan
            Pasu-pasu ni hula-hula    Berkat dari hula-hula
            Padao mara marsundut-sundut   Penangkal mara turun-temurun

Ada kalanya hula-hula sengaja mengadakan doa bagi boru agar kesejahteraan pihak borunya makin meningkat. Atau, untuk mendoakan supaya disamping bertambahnya rezeki borunya, juga supaya anak-anak turunan borunya beroleh turunan, atau untuk tujuan lain, misalnya supaya sekolahnya sukses. Mari kita ikuti umpasa di bawah ini yang mencoba menggambarkan hal itu semuanya.
            Dolok ni lobutua                       Gunug  Lobutua
            Hatubuan ni simartolu    Bertumbuhnya simartolu
            Pasu-pasu ni hula-hula Doa berkat hula-hula
            I do siadenggan ngolu-ngolu  Meningkatkan hidup

Dibawah ini disajikan umpasa yang memperlihatkan bahwa pihak hula-hula tidak boleh dilecehkan atau dihinakan. Kalau dihina maka pihak boru akan memperoleh bala, sahala dari hula-hula tidak memberkatinya lagi.
           
            Dulang na so dulangon              Buah dulang tidak dipetik
            Dulang bajora di bona na                      Dulang bajora di pokoknya
            Hula-hula ndang boi sumpaon   Hula-hula jangan disumpah
            Habiaran do sumpana                           Takuti kutukannya

            Umpasa-umpasa dibawah ini lebih menjelaskan bahwa hula-hula permulaan matahari terbit, karena itu harus disembah berulangkali agar roh dan sahalanya memberkati menjauhkan mara bahaya antar generasi. Perhatikanlah umpasa-umpasa berikut.

            Hula-hula bona ni ari                            Hula-hula sumber terang
            Tinongos niomputa mulajadi                  Kiriman dari mulajadi
            Sisubuton do I marulak loni                   Disembah dihormati
            Sisombaon di rim ni tahi                        Dibujuk berulang kali
            Hula-hula mataniari binsar                     Hula-hula adalah sumber terang
            Sipanumpak do tondina                        Rohnya memberkati
            Sipanuai do ia sahalana                         Sahalanya menguatkan
            Di na sa pomparan na                           Bagai semua turunannya
            Obuk do jambulan                                Rambut marjambulan
Na nidandan bahen samara                   Indah didandan jadi sanggul
Pasu-pasu ni hula-hula              Berkat dan doa dari hula-hula
Pitu sundut so ada mara                        Tujuh generasi tak berbahaya

            j.C.  Vergouwen (1964:49) mengatakan bahwa hubungan kekeluargaan seseorang dengan hula-hulanya mempunyai karakter yang magio religius. Katanya “the hula-hula group is regarded by his descendans as the bona ni ari = The beginning of days and always accorded the reverence. That is its prerogative; people will never neglect inviting this “first” hula-hula to participate in important feasts of their own circle. For as we shall see later the batak – as does the kindship group which he belongs – owes a considerable part of position in life to the blessing he has received from his hula-hula.
            Unsur hula-hula menurut T.M. Sihombing (1992:52) mencakup hal-hal dibawah ini:
a)      Tunggane (lae) dohot simatua ni suhut (on ma apala ni goaran hula-hula ni suhut)
b)      Tulang (apala hula-hula ni ompung ni suhut)
c)      Bona tulang (bona hula) ima apala hula-hula na diginjang i
d)      Bona ni ari (apala hula-hula ni amang ni oppugn ni suhut)
e)      Bona niari nama ginoaran sude hula-hula na diginjang i
f)        Tulang rorobot (tulang ni tunggane boru ni suhut dohot tulang ni inangna dohot tulang ni ompung boruna manang pomparan ni i). Boru ni tulang rorobot ma na nidokna boru tulang so olion, ai bao ni iba doi.
g)      Laos hula-hula niba do antong etongon sude hula-hula ni dongan sabutuha.

Marilah kita tutup pembicaraan tentang hula-hula ini dengan umpasa “Ni during situma laos dapot pora-pora, pasu-pasu namardongan tangiang ni hula-hula namambahen marsundut-sundut soada mara” artinya dengan berkat dari hula-hula yang direstui Debata Allah menjadikan yang miskin jadi kaya.
Unsur boru merupakan unsure ketiga dalam konteks unsur paradaton dalihan natolu. Unsur mencakup hal-hal dibawah ini:
a)      Iboto ni dongan sa ama ni suhut
b)      Boru tubu dohot namboru ni suhut
c)      Boru diampuan, ima na ro sian na asing jala jinalo, niampuan di huta niba.
d)      Boru na gojong (nungnga boru hian sian ama dohot ompu) jala laos sahuta dohot hula-hula
e)      Ibebere
f)        Angka boru ni parboruan dohot bere, dohot boru ni parparibanon dohot boru ni dongan sabutuha
g)      Boru ni dongan sa ina dohot boru ni dongan saparpadanan.

Dasar pertalian yang mendasari sikap dan perlakuan terhadap pihak boru adalah hal-hal dibawah ini
a)      Elek ma ho marboru, molo naeng ho sonang (harus bersifat membujuk, mengasihi, dan menyanyangi hula-hula kepada boru)
b)      Bungkulan do boru (boru itu ibarat bungkulan artinya pusat kekuatan yang menegakkan persatuan dan perdamaian di kalangan hula-hula)
c)      Durung do boru, tomburan hula-hula artinya(pihak boru selalu bersifat penderma/penyumbang kepada hula-hulanya, terutama kalau hula-hula membuat pesta adapt)
d)      Ndang unduk mameme anak, dirgak marmeme boru artinya perhatian dan rasa sayang orang tua terhadap anak laki-laki dan terhadap anak perempuan tidak berbeda. Kalau orang tuanya berada maka anak laki-laki diberi warisan berbentuk pembagian harga, anak perempuan diberi pauseang (sebidang tanah, boleh diusahakan tanpa sewa, tetapi tidak boleh dijual. Hak menjual tetap di tangan pihak marga yang mendirikan kampong). Selain itu, sejak dahulu pihak boru boleh mendirikan rumah,sebaliknya anak laki-lakinya pergi mendirikan perkampungan baru karena manjae. Perlu diperhatikan bahwa pihak boru sudah diluar marga dari dongan sabutuha. Jadi kalau memberikan harta kepada boru (anak perempuan) berarti memberikan harta itu kepada marga lain.
e)      Tinallik landorung bontar gotana
Dos do anak dohot boru nang pe pulik margana.
Umpasa itu menegaskan bahwa orang tua memperlakukan anak laki-laki sama dengan  anak perempuan, walaupun anak perempuan itu sudah menjadi marga lain (ingat isteri ikut suami karena patrinial).
Dasar pembentukan sikap dan perilaku terhadap bere dan ibebere adalah atas isi umpasa berikut ini.
a)      Amak do rere, anak do bere
      (diperlakukan bere dan ibebere itu sebagai anak kandung dari tulangnya)
b)      Dangka do dupang, ana do tulang
(pihak berelibebere memperlakukan tulangnya sama bagai ayahnya)
c)      Hot pe jabui, sai tong doi margulanggulang
Tung sian dia pe mangalap boru bere i, sai hot doi boru ni tulang
(isteri dari bere kita, walaupun bukan anak dari kita atau bukan lagi dari marga kita, harus tetap dianggap anak kita sendiri.)
           
            bagaimana umpasa merepresentasikan fungsi dan perean boru dalam dalihan natolu, marilah kira telusuri di bawah ini.
            Siporsan na dokdok                 Pemikul beban berat
            Sialap na dao                            Penjemput dari jauh
            Na so ma biar diari golap          Tiada takut dihari gelap
            Siboan tuak na so ra masom     Pembawa tuak yang tak mau masam

Bagi hula-hula, boru itu adalah kesayangan, pengabdi keluarga yang tak bosan, dan penjunjung tinggi martabat hula-hulanya, dan bahkan petugas adat bagi hula-hulanya. Pihak boru dengan penuh bangga melakukan semuanya itu.
            Pengabdian boru yang tak terbatas inilah yang  menyebabkan pihak hula-hulanya selain menyanyangi, juga memanjakan dan mengakrabi. Perilaku hula-hulanya yang paling prisipiel ialah elek marboru. Kepada dongan sabutuha mungkin-mungkin kuat suara, akan tetapi borunya tetap bersuara lembut, lunak, walaupun sering sugestif.
            Pengabdian boru kepada hula-hula tidak terbatas hanya berupa tata cara percakapan yang bersopan santun, atau penyuguhan makanan yang enak-enak, tetapi sampai-sampai memberikan uang, apalagi kalau pihak hula-hulanya mengawinkan anak laki-laki, mangokkal holi para orang tua, atau kalau mendirikan rumah baru. Pemberian itu semuanya atas kerelaan dan makin besar jumlah yang dapat diberikannya makin senang dan puas perasaan boru yang memberikannya. Itu pula sebabnya pihak hula-hula selalu mendoakan agar borunya semakin kaya. Perhatikanlah umpasa dibawah ini.
            Tinaba salaon, salaon situa-tua
            Martua do halak molo gabe boruna
            Ia pinagido hepeng ndang olo manjua
            Ditebang salaon, salaon situa-tua
            Berbahagia kalau kaya borunya
            Diminta uang tidak menolak

            Umapasa dibawah ini menggambarkan besarnya perhatian dan kewajiban moral bagi kedua belah pihak antara hula-hula dan boru untuk menciptakan perdamaian bila sewaktu-waktu ada perselisihan pada keluarga mereka. Perhatikanlah umpasa dibawah ini.
            Sinabi laitu binahan tu harang ni hoda
            Molo gulut boruna amana martola
            Molo gulut amana boruna do martola
            Disabit rumput ditaruh ke keranjang kuda]
            Berkelahi borunya, hula-hulanya melerai
            Berkelahi hula-hulanya, borunya buat damai
            Demikian sudah digambarkan melalui umpasa-umpasa hal-hal yang mendasari sikap dan perilaku, dan corak pergaulan dalam lingkungan pergaulan dan peradatan dalihan natolu. Dalam penggambaran itu telah tercakup dasar-dasar pengoperasian paradaton antar pihak diantara unsur-unsur tersebut. Sangat terasa kurangnya waktu dan perhatian untuk mendalami, mengungkap dan menyebarkan makna umpasa itu ke khalayak sesuku, namun kita sudahi saja dahulu untuk menyambungnya ke topik lain.

3. Umpasa penyampaian nasehat
            umapasa berikut ini diperguanakan sebagai sarana pendidikan untuk mendidik orang-orang muda agar tetap berbudi tinggi, beradat, dan mampu menyesuaikan diri dalam masyarakatnya. Pendidikan melalui umpasa dibawah ini khusus berupa nasehat, yang diberikan orang tua-tua kepada kaum muda. Perhatikanlah umpasa dibawah ini.
            Manta hamu marbubu                           Hati-hati memasang bubu
            Lehet ma miu tali                                   Baik-baik memintal tali
            Denggan hamu marsisungkunan             Bagus-bagus bertukar pikiran
            Lehet marhuasari                                  Baik-baik berunding
Umpasa tersebut menasehatkan agar orang bersaudara baik-baik bertukar pikiran untuk merundingkan hal-hal yang akan dikerjakan.
            Molo gaduk pordam                             Kalau bengkok pordamu
            Di dok ria ni ate                                    Di bukit ria ni ate
            Tibu gaduk roham                                 Jika kamu tidak jujur
            Tibu do ho mate                                   Lekas engkau mati
Umpasa itu menasehatkan agar seseorang selalu hidup jujur dan tak mengkhianati orang lain.
            Lambiak ni pinasa                     Daging buah nangka
            Tinuhor sian onan                      Dibeli dari pasar
            Molo jotjot marbada                 Jika sering berkelahi
            Jumpang hamagoan                   Akan beroleh malapetaka
Umpasa ini memperingatkan bahwa orang yang sering berkelahi akan beroleh malapetaka.
            Unang marhandang na buruk                 Jangan memakai pagar buruk
            Unang adong solotan sogot                   Agar tidak perlu menyisipnya
            Unang marhata muruk               Jangan berbicara tekebur
            Unang adong solsolan sogot                  Agar kelak tidak menyesal
Umpasa itu menasehatkan agar tiap orang jangan suka berbicara tekebur supaya nanti tidak menyesalinya.
            Bulung ni bulu               Daun bamboo
            Ingkon targota                          Harus bergetah
            Molo dung tinoktok                  Kalau sudah bersengaja
            Ingkon pinorsan                        Mestilah dipikul
Umapsa itu menasehatkan agar pekerejaan yang sudah kita mulai harus kita pertanggungjawabkan, atau tiap orang harus kuat memegang prinsip hidup agar menjadi orang terpercaya.
            Niarit tarigu                              Dikikis lidi enau
            Mambuat pora-pora                 Untuk penangkap ikan pora
            Ia naeng jumpangan uli  Jika ingin memperoleh rezeki
            Ingkon olo iba loja                    Kita rela membanting raga
Umpasa ini menanamkan paham supaya setiap orang memiliki etos kerja agar dapat meningkatkan taraf hidup.
            Tarup ni ruma ijuk                     Atap rumah ijuk
            Ijuk panolotina              Ijuk juga penyisipnya
            Na so magoloi sipasingot          Tidak mengindahkan nasehat
            Sumolsoli bagianna                   Akan menyesali hidupnya
Umpasa diatas ini mengingatkan bahwa orang-orang yang tidak mengindahkan nasehat akan selalu menyesali hidupnya kemudian hari.

C. Umpasa dalam upacara adapt-istiadat
            Setiap upacara adapt selalu ditandai dengan bagian-bagian acara penting, yaitu makan bersama dengan didahului penyampaian induk makanan (tudu-tudu sipanganon) “oleh dan kepada” menurut corak upacara yang sedang dibuat. Kemudian, diikuti pembagian jambar menurut posisi masing-masing, lalu marhata, yang selalu dimulai dengan penentuan raja panise, lalu masisisean (yang mempertanyakan aapa pokok acara), lalu meneruskan acara itu sesuai pokok acara. Pada tiap acara adapt ini baik pada waktu umpasa para pembicara dapat mengutarakan pikirannya dengan cepat dan tepat. Berikut ini didaftarkan sejumlah umpasa menurut upacara yang sedang dilakukan.



1. Umpasa dalam peristiwa kelahiran
            sesudah dijelaskan sebelumnya bahwa anak, baik anak laki-laki maupun anak perempuan, adalah matahari bagi ayah dan ibu kandungnya, yang menciptakan kebahagiaan, cahaya terang bagi keluarga karena sudah mempunyai penerus silsilah. Selain itu dapat dimengerti bahwa masa penantian selama sembilan bulan, keluarga penuh perhatian akan kelahiran anak tersebut. Ibunya, yang mengandung si jabang bayi, walaupun tidak disebut sakit, tetapi parilah penuh beban, antara sakit, penat, dan waswas. Baru sesudah anaknya lahir, orang Batak Toba menyebut si ibu sudah hipas artinya sehat tetapi maknanya mengatakan sudah melahirkan. Dari penyebutan hipas orang Batak Toba sesungguhnya ingin mengatakan bahwa selama mengandung, si ibu memang sakit. Itulah sebabnya, sesudah kandungan berumur tujuh bulan, keluarga si ibu dating membawa makanan dan ulos tondi, diistilahkan mangirdak, tujuan memberi semangat si ibu yang sedang mengandung, supaya tetap tegar dan percaya diri serta selalu sujud kepada Tuhan, agar menyertainya dan memberi kekuatan lahir dan batin kepada si ibu. Jenis makanan yang sedang dihidangkan ialah dengke ikan mas, nasi putih, dan makanan khusus seperti nitak kputih dengan kepalan tangan, nitak naihoping, cetakannya berbentuk kembang opal, timun Toba, pisang Toba, jeruk purut. Masing-masing jenis benda dan makanan ini dijadikan symbol-simbol keinginan. Dnegke yang disediakan disebut dengke sitio-tio supaya Tuhan mengabulkan doa agar si ibu tio artinya jenih, berarti sehat walafiat selama mengandung dan waktu melahirkan. Ulos disebut ulos tondi yang melambangkan permohonan agar Tuhan menguatkan semangat dan menyehatkan badan (mangulosi badan dohot tondina). Nitak yaitu kue cetakan telapak tangan itu berwarna putih mendambakan si ibu bontar so haliapan artinya sehat dan bersih dari semua roh-roh penjahat. Demikian juga jeruk purut melambangkan permohonan kepada Allah agar di ibu terjauh dari hantu, iblis yang sering gentayangan disekitar. Timun dan pisang dimaksudkan memberikan kesejukan. Jadi upacara mangirdak itu maksudnya memanjatkan doa suapa si ibu yang sedang hamil sehat tidak kurang suatu apa.
            Acara ini sering  dibuat agak besar dengan mengundang unsure dalihan natolu dari kedua belah pihak keluarga perempuan dan pihak keluarga laki-laki. Sesudah acara makan biasanya dilakukan pembagian jambar lalu marhata. Dalam acara marhata kedengaran umpasa dibawah ini.
            Eme sitamba tua                       Padi sitamba tua
            Parlinggoman ni siborok            Tempat berudu berlindung
            Sude ma hita martua                 Semoga kita bertuah
            Debata ma na marorot              Tuhan lah yang mengiringi

            Umpaa ini dimaksudkan sebagai permohonan kepada Tuhan kiranya melindungi dan mengiringi si ibu agar tetap sehat-sehat tidak kurang suatu apa.
            Tubu ma hariara                        Tumbuh pohon ara
            Di holing-holang ni huta Tumbuh diantara kampong
            Tubu ma anak na marsangap     Lahirlah anak laki yang berwibawa
            Boru pe torop                           Boru bertuah pun banyak

            Umpasa mendambakan agar si ibu melahirkan anak laki-laki yang berwibawa atau perempuan yang bertuah.

Bintang na rumiris                     Bintang bertabur
            Ombun na sumorop                  Enbun yang meresap
            Anak per iris                             Anak laki-laki riris
            Boru pe torop                           Anak perempuan berbaris

            Umpasa diatas mendoakan kiranya si ibu melahirkan anak laki-laki yang banyak dan anak perempuan yang torop.
            Dangka ni hariara                      Cabang kayu ara
            Tango ni pangait-aiton   Tangguh di lentur-lenturkan
            Simbur magodang ma ibana      Cepatlah si anak itu besar
            Tongka panahit-nahiton Pantang penyakitan
Umpasa ini mendambakan kiranya anak yang akan lahir itu cepat besar dan pantang kena penyakit. Biasanya setiap mengakhiri upacara adat, sebagai pengakhir pembicaraan di pakai umpasa dibawah ini.
            Sahat-sahat ni solu                    Sampailah perahu
            Sahat di bortean                       Sampai ke pelabuhan
            Leleng ma hita mangolu Lanjutlah umur kita
            Sai sahat tu panggabean            Terimalah kesejahteraan

            Sesudah beberapa minggu si ibu bersalin, dibuatlah pesta besar untuk memperlihatkan kegembiaraaan karena keluarga itu memperoleh keturunan, dan si ibu pun sehat-sehat. Pesta ini sekaligus upacara pembaptisan dan pemberian nama di gereja. Pada acara marhata disebutkan umpasa dibawah ini.

            Tubu ma sihorpuk                     tumbuh rumput sihorpuk
            Tubu dilondut-londut                 tumbuh dirawa-rawa
            Tubu ma boru                           lahirlah puteri
            Namalo marsonduk                  yang pintar mengatur
Umpasa ini berisi permohonan agar lahirlah anak perempuan yang pandai memasak.
            Habang anduhur titi                               terbang burung tekukur
            Tu dolok tu toruan                                ke hilir ke mudik
            Sai na olo ma mangihut siucok I            semoga si ucok penurut
            Na olo pangihutan                                 yang mampu pemimpin
Umpasa tersebut memintakan kiranya si ucok berkelakuan baik, dan mampu memimpin keluarga.
            Dangka ni bulu godang pinangaitaithon
            Sai simbur magodang ma ibana mamboan goarnai
            Tongka panahitnahiton
            ( cabang bamboo besar ditarik-tarik
            Semoga cepatlah dia besar memakai namanya
            Dan sehat tanpa penyakitan)

Umpasa itu mendambakan kiranya yang baru lahir itu cepat besar memakai namanya dan kiranya tetap sehat tanpa penyakitan.

           
Habang ambaroba di atas ni sibuntuon
Sai naburju ma ibana marroha jala jolma sitiruon           
( Terbang burung ambaroba diatas sibuntuon
Semoga anak itu berhati baik, dan manusia yang pantas ditiru).

Umpasa itu menginginkan si anak tersebut baik dan berbudi dan pantas ditiru.
            Dolok janji mauli hatubuan ni simarhorahora
            Goar na uli ma goar nai, donganna gabe jala mamora
            (gunung janji mauli tempat tumbuhan simarhorahora
            Namanya yang indah yang sudah diberi
            Menemaninya gabe dan mamora)

Umpasa diatas memintakan kiranya nama yang indah yang baru diberi dapat dan cocok untuk dipakai dan menyerainya sampai beranak cucu serta memperoleh kekayaan.
            Tubu ma tambisu di toru ni pinasa
            Sai martinodohon do pe dakdanak na tardidion
            Angka anak nabisuk dohot boru na uli basa
            (tumbuh tambisu dibawah nangka
            Semoga lahir lagi adiknya
            Anak laki-laki yang cerdik dan anak perempuan yang baik budi).

Umpasa itu menginginkan kiranya bertambah adik yang baru dipermandikan, lahir lagi anak laki-laki yang cerdik dan anak perempuan yang baik budi.

            Sahat-sahat ni solu sahat dirondang nibulan
            Leleng ma ibana mangolu mangusung goarna diiring-iring Tuhan
(sesampai sampan, sampai saat terang bulan, lamalah dia hidup memakai namanya atas bimbingan Tuhan)
Umpasa diatas memohonkan kiranya si anak lama hidup memakai namanya yang baru dibri, dan kiranya tuhan selalu membimbingnya.

2. Umpasa dalam memasuki Rumah baru
            Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa mendirikan rumah, apalagi yang disebut rumah adat, bukan pekerjaan yang mudah, dan pasti tidak mungkin dapat dikerjakan sembarang orang. Oleh karena itu pantas, kalau rumahnya sudah selesai, dipestakan dengan mengundang segenap familinya, diantaranya dongan sabutuha, hula-hulanya, boru, dongan huta, dan kenalannya. Tujuan pesta memasuki rumah diistilahkan mangompoi rumah ialah memohonkan doa dari hula-hulanya, dongan sabutuha, dan boru yang mencerminkan keutuhan diri (hadirion) mula jadi nabolon berupa hahomion, habonaron, dan hagogoan, dengan pengharapan mereka sekeluarga sehat-sehat, maranak-marboru, sinuma pinahan gabe na niula (beroleh anak laki-laki dan perempuan, serasih beternak dan berhasil dari pekerjaan) atau mendapat mata pencaharian serta mudah rezeki. Jadi unsure dalihan natolu mendoakan mereka.


            Acara memasuki rumah sekarang ini memasuki variasi baru dengan memulai acara kebaktian gereja. Pada gereja katolik memulainya dengan memerciki semua ruangan dari air suci yang bertujuan supaya tempat itu merupakan tempat yang suci, yang bersih, penuh kedamaian bagi segenap penghuni. Setelah acara pemerecikan barulah diteruskan ke acara adat pangompoion. Pada acara ini dongan tubu, pihak boru, dan ale-ale memberikan tumpak (sumbangan uang), tetapi hula-hula mangulosi perlambang doa dan berkat hula-hula.
            Umpasa-umpasa pada acara ini merupakan umpasa yang khusus dipakai pada acara mengompoi rumah baru. Perhatikanlah umpasa dibawah ini.
            Mardangka bulung bira, martampuk bulung labu
            Mauliate ma di Tuhanta ai nungnga tipak hamu marjabu
            (daun bira bercabang, berpucuk daun labu
            Kita ucapkan terima kasih kepada Tuhan
            Karena kamu sudah punya rumah)
           
            Tubu ma tandiang di topi aek sibarabara
            Sai gokma jolma diginjang, gok pinahan ma di tombara.
            (umpasa ini dipakai mangompoi rumah menurut denah lama, rumah yang berkolong. Manusia diatas kolong, dan ternak kerbau dibawah kolong. Jadi kehidupan manusia dengan hewan begitu akrab, hanya terpisah dengan setebal papan. Hal tersebut dapat kita pahami karena kerbau itu adalah symbol kekayaan. Kalau disebut parhorbo artinya pemilik kerbau artinya orang kaya. Selain itu kerbau itu adalah tenaga kerja, yaitu pada masa maninggala artinya melumat sawah. Jadi patutlah kerbau ditempatkan dekat tempat tinggal manusia. Umpasa ini sendiri mengharapkan supaya tiang-tiang rumah berdiri kokoh tidak bergeser dari batu pijakannya)

Mamutik tabu-tabu dompak matahari
Gok ma jolma dijabu jala gok ma arta dilamari
(berbunga labu menghadap matahari, penuh orang dirumah, penuh harta dilemari artinya semoga tuan rumah mempereoleh banyak anak dan banyak harta dirumah baru tersebut.)

Panggu do panggisgis pangko ni bagot bahan hauna
Jabu on ta ma na rat iris, huhut na togu di batunya
(cangkul alat pengikis rumput, bertangkai cabang enau
Rumah ini jangan lah bocor dan kokoh dari batunya).

Tubu ma salaon ditopi ni ambar si horu-horu
Jabu nauli ma jabunta on hatubuan anak dohot boru
(tumbuh salaon di pinggir danau si hour-horu
Semoga rumah ini yang berbahagia
Tempat anak laki-laki dan anak perempuan)

Duru ni hauma panuanan ni sangge-sangge
Sahat ma hamu saur matua mangingani jabu on
Huhut horas jala gabe
(pinggir lading tempat tanaman
Panjanglah umurmu sampai saurmatua
Menempati rumah baru ini, sehat-sehat dan berbahagia)

Demikianlah pembicaraan mengenai umpasa dan umpama yang disajikan dalam bab ini. Umpasa-umpama lainnya, seperti dipakai pada upacara marhata sinamot, marhata pada upacara pesta perkawinan serta upacara kematian, akan disajikan bersamaan pada pembahasan  tradisi adat tersebut. Kebijaksanaan seperti itu dianggap baik menjaga pembicaraan yang bolak balik, bertumpang tindih. Kiranya suguhan ini bermanfaat bagi pencintainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar